Sunday 26th October 2014

Home » Destination, Travel » Hasrat Saya pada Sumba

Teks:  Zen RS / Photo: Sihol Sitanggang

Foto: Sihol Sitanggang

SUMBA adalah hasrat tentang sebuah keberangkatan yang sudah saya tunggu begitu lama, sejak SD, sejak saya membaca sebuah cerita tentang seorang Rato yang selalu meniup seruling malam-malam di atas punggung seekor kuda.

Hasrat saya pada Sumba, selanjutnya, dipantik oleh sepucuk puisi: saat SMP, saya memenangkan sebuah perlombaan membaca puisi pada perayaan bulan bahasa, dan puisi yang saya bawakan berjudul “Beri Daku Sumba”, satu-satunya karya Taufik Ismail yang saya suka.

Dua baris terakhir puisi itu, hingga hari ini, selalu saya bacakan di luar kepala tiap kali sedang membicarakan Sumba dengan siapa saja, di mana saja:

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Bari daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi di malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan 3 ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Bari daku tanah tanpa pagar,luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

Foto: Sihol Sitanggang

Puisi pula yang diam-diam terus merawat ingatan dan hasrat saya pada Sumba, tapi dengan cara yang sedikit berbeda: seorang lelaki tua, dengan reputasi yang nyaris menjadi legenda dan mitologia di jagat sastra, dengan unik terus memompa gambaran tentang Sumba di kepala saya sebagai tempat yang tak ada padanannya.

Umbu Landu Paranggi, nama lelaki tua itu, belakangan baru saya tahu sempat pula menulis sajak tentang tanah kelahirannya, judulnya “Sabana”.

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang

sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

sabana tandus
mainkan laguku
harum nafas bunda
seorang gembala berpacu

lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala

Foto: Sihol Sitanggang

Sumba adalah ingatan yang sudah lahir bahkan sebelum perjumpaan itu benar-benar hadir. Sumba ialah langit biru yang selalu terasa dekat dan seakan hendak runtuh-jatuh. Di Sumba, tak ada langit yang jauh, semuanya terasa dekat, segalanya tampak melekat lalu memiuh di ujung ringkik kuda yang melenguh.

Sumba ialah pantai-pantai landai dengan ombak-ombak yang dari jauh terlihat selalu melambai. Di Sumba, tak ada pantai yang ramai, semuanya terasa lengang, segalanya tampak mengembang panjang sejauh mata memandang.

Foto: Sihol Sitanggang

Sumba adalah hamparan padang alang-alang. Di Sumba, tak ada alang-alang yang yang tak berguna: ia ada di atap rumah dan di ujung mulut kuda yang mengunyah. Alang-alang yang tak tersentuh bahkan mengabadikan sudut-sudut Sumba yang tak terjamah.

Sumbah adalah cerita tentang mulut-mulut yang tak berhenti memamah. Di Sumba, tak ada mulut yang sepi dari sirih, pinang dan tembakau yang sengat baunya hanya kalah oleh harum kayu cendana dari hutan-hutan yang basah.

Upacara meminta ampun, berkat dan rejeki pada arwah leluhur bisa menghabiskan 20 ekor babi. (Foto: Sihol Sitanggang)

Sumba adalah epos tentang laki-laki gagah yang duduk di atas punggung kuda untuk saling baku kucur darah. Di Sumba, tak ada darah yang sia-sia, sebab pada tiap tetes darah ada mimpi tentang hamparan padi yang menguning di sawah dan daging-daging ternak yang setiap seratnya akan ditukar untuk sehelai seragam sekolah.

Sumba adalah perempuan-perempuan yang bekerja dengan dada telanjang dan punggung yang dijerang panas matahari. Di Sumba, pada tiap keringat perempuan yang mengucur, lahir anyaman-anyaman yang tak biasa dan kain tenun yang tak sobek bahkan jika diinjak oleh puluhan tapal kuda.

Sumba adalah batu-batu yang dijaga para rato dengan garis wajah yang tegasnya seperti liukan sungai Lamboya. Di Sumba, tak ada leluhur yang tak bersemayam di balik batu-batu yang ligat, dan di setiap batu itu, terpacak ribuan kisah persilangan keluarga dan ratusan dongeng tentang arwah yang selalu datang pada dua-pertiga purnama.

Foto: Sihol Sitanggang

Sumba adalah upacara-upacara yang sinambung tanpa henti, dari abad ke abad, dari hari ke hari. Di Sumba, tak ada upacara yang tak terjalin dengan penghidupan sehari-hari, dan pada setiap upacara itu, Dia yang Tak Terjamah hadir sebagai sesuatu yang intim, seperti angin dari Pantai Nihiwatu yang menyusup dari sesela tanjung yang sunyi.

Foto: Sihol Sitanggang

Sumba adalah rindu yang kepadanya aku akan kembali, pada suatu hari nanti.[]

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments